
Meski mendapatkan fasilitas bahan bakar minyak bersubsidi dari pemerintah, konsumsi bahan bakar bagi mobil-mobil pelat kuning yang merupakan kendaraan umum juga tetap diawasi.
Pengawasan akan dilakukan dengan menggunakan teknologi Radio Frequency Identification (RFID) dan penempelan stiker di mobil yang berhak mendapat jatah bahan bakar minyak bersubsidi bersubsidi (BBM bersubsidi).
Demikian disampaikan Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Evita Herawati Legowo, Kamis (30/12/2010), dalam jumpa pers di Kemenkominfo, Jakarta.
"Mereka tetap ada jatah. Kalau dalam sehari mereka bolak-balik kan bagaimana?" ucap Evita kepada para wartawan.
Ia mengungkapkan, besaran jatah yang akan diterima mobil berpelat kuning belum ditetapkan. Namun, baik BPH Migas maupun Organda masing-masing sudah memiliki data tingkat konsumsi bagi tiap kendaraan, baik beroda empat maupun roda tiga.
Pengawasan pendistribusian BBM bersubsidi ini, menurut Evita, dilakukan dengan dua cara, yakni dengan stiker dan pemanfaatan teknologi RFID. Stiker nantinya akan dipasang di tiap mobil yang berhak mendapatkan jatah BBM bersubsidi. Adapun RFID merupakan sebuah teknologi yang melekat pada badan mobil.
Dengan menggunakan RFID, dalam jarak 5-10 meter, petugas SPBU akan dapat mendeteksi apakah mobil tersebut berhak mendapatkan BBM dan berapa sisa kuota premium bersubsidi yang dimiliki.
"RFID ini nantinya ada dua alat, alat yang pertama untuk memberikan deteksi sisa kuota premiumnya, yang kedua untuk memasukkan data baru tentang berapa jumlah premium yang dimasukkan ke mobil," ungkap Evita.
Penggunaan teknologi RFID ini akan diuji coba di enam SPBU di Jakarta mulai April. "Dalam setahun akan kami uji coba dulu. Nanti akan diperluas. Paling lambat akhir tahun (2011) setelah evaluasi," ucapnya.
Ketika ditanyakan soal kemungkinan satu mobil mengisi lebih dari jatah yang ditetapkan pemerintah, Evita mengaku bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi apabila teknologi RFID ini mulai diberlakukan. "Kalau misalnya dia mau nambah, yah tidak bisa pakai yang bersubsidi atau premium. Yang sisa tambahannya itu harus pakai pertamax yang non-subsidi," ucap Evita.
[sumber : kompas]