| Bisnis Kopi Luwak Segelap Warna Kopinya |
|
|
|
| Oleh Administrator |
| Kamis, 30 Desember 2010 22:33 |
|
Misalnya saja Sapri pemilik Ratu/Central Luwak yang mengaku saat ini kwintalan biji mentah (gelondongan) kopi luwaknya belum terjual padahal ia harus mendapatkan dana segar untuk memutar bisnis kopi luwaknya. Maklum saja, sekarang sudah bukan lagi musim kopi namun Sapri harus tetap memelihara puluhan ekor musang atau luwaknya dengan biaya pakan yang lumayan menguras kantong. Hal-hal semacam ini akhirnya berimbas pada para produsen kopi luwak skala kecil di Liwa yang memiliki penangkaran luwak dibawah 5 ekor. Tak jarang para produsen skala kecil ini menutup usahanya alias bangkrut dan menjual luwak-luwaknya ke produsen yang lebih besar termasuk dirinya. "Kalau tahun kemarin itu yang coba-coba (bisnis kopi luwak) saya hitung-hitung lebih dari 30 orang, sekarang gulung tikar, yang efektif hanya kami bertiga (Sapri, Gunawan dan Sukardi)," katanya. Ia mengakui saat ini komoditas kopi luwak masih menjadi konsumsi kalangan tertentu saja karena harganya yang mahal, sehingga tak mengherankan dengan pangsanya kecil namun porsinya diperebutkan banyak produsen, hasilnya nasib produsen kopi luwak seperti sekarang ini. Sama halnya dengan Sapri, Sukardi salah satu produsen kopi luwak terbesar di kawasan Liwa dengan bendera Kupi Musong mengatakan hampir setiap hari ada 3-5 orang tamu yang datang ke rumahnya yang tertarik dengan kopi luwak. Bahkan sudah banyak sekali sampel-sampel kopi luwaknya yang sudah ia kirim ke calon pembeli, namun lagi-lagi pembeli skala besar dengan itensitas kontinyu tak kunjung datang. Sukardi juga mengaku masih belum bisa menjawab adanya fenomena bahwa begitu termasyurnya kopi luwak namun yang membeli dalam skala besar dan terus menerus masih nihil. Sukardi menuturkan ia menduga hal ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu adanya spekulan kopi, yang menginginkan kopi luwak tetap eksklusif di pasaran. "Kopi luwak ini masih langka, hanya daerah tertentu saja yang memiliki kopi luwak," kata Sukardi. Ia berharap ada upaya penelitian terhadap produk kopi luwak Lampung Barat terutama dari sisi kualitas bahkan khasiat obat yang selama ini belum diteliti secara ilmiah. Jika ini dilakukan akan semakin menambah kepercayaan pasar terhadap kopi luwak. "Misalnya lebih bagus mana kopi luwak kandang, atau kopi luwak hasil hutan, itu yang belum diuji," katanya. Setali tiga uang dengan Sapri, ia juga mengharapkan agar pemerintah membuat sertifikasi keaslian kopi luwak. Dengan demikian hal ini bisa menjawab adanya keraguan pasar dan menjamin kelangsungan bisnis produksi kopi luwak di Liwa Lampung Barat. "Sekarang ini saya bingung banyak orang mencari tapi nggak ada yang membeli dalam jumlah besar dan kontinyu," katanya. Sukardi pun menuturkan ada saja kemungkinan yang terjadi dari masalah pemasaran kopi luwak saat ini. Maklum saja pemasaran kopi luwak masih terbatas dan rentan mengundang spekulan kopi luwak terutama dari para broker. "Apa kualitasnya rendah? tapi sampai sekarang nggak ada yang komplain. Apa terlalu banyak broker, apa permainan orang kopi. Sekarang kan pemain kopi luwak banyak, biar ekslusif kopi dibuang di laut habis semua biar mahal lagi. Kan dari ceritanya pemain kopi nggak banyak," katanya. Namun terlepas dari itu semua, ia menambahkan saat ini kemampuan produksi kopi luwak di Liwa Lampung Barat bisa mencapai 2 ton kopi per bulan ditopang oleh 20-an produsen kopi luwak. Jika proses pemasaran berjalan dan ditopang oleh permintaan yang kontinyu, maka kopi luwak di Lampung Barat akan menjadi kekuatan ekonomi tersendiri. Sukardi yang memiliki 40 luwak di penangkaran rumahnya harus berpuas diri dengan hanya menjual ritelan kopi bubuk dengan omset hanya Rp 40 juta per bulan. Sementara produk kopi mentah dalam bentuk kotoran luwak (brenjelan) masih banyak tersisa hingga 3 kwintal sampai saat ini. "Untuk jualan kopi bubuk saya ada pembeli dari Taiwan yang rutin membeli 10 Kg per minggu," katanya. Ia juga mengeluhkan biaya operasional pemeliharaan luwak yang tinggi, maklum saja saat ini sudah tak musim kopi. Sementara penjualan kopi setiap hari belum menentu. "Pengeluaran untuk 40 ekor musang per harinya sangat besar termasuk makanannya dan perawatannya," katanya. Sukardi menuturkan peran pemerintah terutama pemerintah daerah masih sebatas membantu dari sisi promosi kopi luwak, dengan mengikutsertakan para produsen di ajang pameran. "Kalau pemasaran dan pemodalan belum," katanya Sukardi menuturkan dengan segala macam persoalannya, intinya saat ini produsen kopi luwak Lampung Barat masih kesulitan menjual produknya. Bahkan berimbas pada upaya banting harga dari para produsen kopi luwak agar tetap menjaga perputaran uangnya (cashflow). "Sekarang ini kita kasih harga mahal susah, kasih harga murah orang ragu dan mencibir," katanya. Seperti diketahui booming produksi kopi Luwak di Liwa Lampung Barat setidaknya sudah mulai ramai pada tahun 2007. Pada waktu itu kopi Luwak mulai dikembangkan secara intensif dengan pola penangkaran. Kopi luwak itu sendiri telah dikenal pada zaman kolonial Belanda sampai era tahun 1950-an. Pada masa itu sudah diketahui bahwa Luwak merupakan binatang yang gemar memakan buah kopi yang sudah matang dan para petani sering memunguti kotoran buah kopi luwak di alam bebas. Petani memiliki keyakinan kopi-kopi tersebut merupakan biji kopi terbaik dan sudah melalui proses fermentasi di dalam lambung luwak secara alami sehingga menghasilkan kopi dengan cita rasa yang khas. |
| LAST_UPDATED2 |




Pemerintah boleh bangga dengan kehebatan Kopi Luwak Indonesia yang mampu 'menghipnotis' para pecinta kopi di seluruh dunia seperti di ajang World Expo Shanghai China 2010. Namun kondisi ini justru berlawanan dengan nasib para produsen kopi luwak Liwa Lampung Barat.